
Dewi Kalkun merupakan nama singkatan yang unik dari Desa Wisata Kali Kuning. Wisata ini berlokasi di Padukuhan Sempu, Kalurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kali Kuning merupakan sungai utama yang berhulu langsung di Merapi dan mempunyai potensi banjir lahar dingin dan longsor material vulkanik ketika ada erupsi dari Merapi. Maka dari itu, Kali Kuning yang menjadi salah satu desa wisata di Kalurahan Wedomartani, harus dirawat, sebagai sumber utama vegetasi biota bahkan ekosistem pendukung pelestarian di sekitar lereng Merapi.
Tahun 2015 lalu, Komunitas Sungai Kuning diresmikan, kemudian dikenalkan ke khalayak luas oleh Pemerintah Kalurahan Wedomartani.
Di tahun 2020, Komunitas Sungai Kuning ini dikolaborasikan dengan Karang Taruna Parikesit Kalurahan Wedomartani, setelah dinamika itu ada, Karang Taruna Parikesit mulai bergerak untuk melestarikan kawasan yang dilewati oleh Kali Kuning. Mulai dari Sawahan Lor, Sawahan Kidul, Gondang Legi, Jangkang, hingga Sempu.

Selain itu juga ada pula kegiatan-kegiatan di daerah sekitar Kali Kunging. Kegiatan yang biasanya dilakukan ada dua, yaitu edukasi dan konservasi. Kegiatan edukasi praktis seperti menanam pohon bersama, diskusi dipinggir sungai, kenduri sungai, merti sungai, sedekah sungai, hingga upacara peringatan hari-hari nasional dilaksanakan di sungai seperti Sumpah Pemuda dan Peringagan 17 Agustus.
Edukasi paling utama yang digarap saat ini, yaitu menanamkan mindset bahwa sungai itu merupakan nadi bumi. Bila dianalogikan, apabila nadi kita terganggu, maka sakit seluruh tubuh kita, bumi pun begitu. Ketika sungai-sungai isinya bahan pencemar dan tersumbat alirannya maka hal tersebut menjadi indikator bahwa bumi kita sedang sakit. Sehingga, kebutuhan air bersih menjadi berkurang, hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik perebutan distribusi air. Maka, edukasi yang dilakukan oleh Komunitas Kali Kuning saat ini berfokus pada tagline “Yuk selamatkan nadi bumi bernama sungai!”.
Kali Kuning juga memiliki konsep wisata konservasi. Dipilihnya konservasi alam dibanding rekreasi alam memiliki alasan yaitu wisata rekreasi cenderung menimbulkan suatu kesadaran pengunjung hanya sebagai penikmat wisata dibandingkan merawat. Sehingga, secara tidak sadar pengunjung pun tidak memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan wisata. Konservasi itu merupakan bonus wisata, sedangkan rekreasi, menghasilkan sampah fisik dan non-fisik. Sampah fisik bisa bungkus makanan, non-fisiknya berupa polusi suara dan polusi asap.
“Wisata menjadi bagian dari daya pikat sementara konservasi menjadi bagian dari daya tahan.” Ucap Pak Irawan, anggota Komunitas Pelestari Kali Kuning.


